EFEK KOMUNIKASI MASSA

Nadea Rosi Atini Putri (F100150194)ˡ Prihasti Annisa Iswari Putri (F100150200)² Chafizah Nur Diantari (F100150213)³
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Abstrak 
Komunikasi sangat penting pada saat ini, dengan komunikasi banyak hal yang bisa kita dapatkan. Komunikasi dapat memeberikan kita informasi terkini yang sedang terjadi di sekitar kita, hal ini membuat kita memiliki pengetahuan luas tentang hal-hal terkini. Komunikasi juga menjadi sumber hiburan bagi masyarakat luas. Dampak paling besar adalah komunikasi dapat memberikan pengaruh besar untuk seorang individu, masyarakat maupun budaya yang ada di sekitar nya. Seperti contohnya, gaya berpakaian, adat istiadat, pola pemikiran dan banyak yang lainnya. Berdasarkan pada hal tersebut diatas serta ingin meningkatkan pengetahuan penulis membuat pembahasan tentang EFEK KOMUNIKASI MASSA.
            Kata Kunci: efek komunikasi massa, individu, masyarakat, budaya


PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Komunikasi sangat penting pada saat ini, dengan komunikasi banyak hal yang bisa kita dapatkan. Komunikasi dapat memeberikan kita informasi terkini yang sedang terjadi di sekitar kita, bahkan dengan semakin canggihnya media komunikasi kita dapat menerima informasi dari berbagai belahan dunia dengan cepat. Komunikasi juga dapat menjadi sumber hiburan bagi masyarakat luas, banyak acara di televise menjadi salah satu sumber hiburan utama untuk seorang individu maupun bagi masyaratkat luas. Dampak paling besar adalah komunikasi dapat memberikan pengaruh besar untuk seorang individu, masyarakat maupun buda yang ada di sekitar nya. Seperti contohnya, dari tanyangan di televise maupun berita di media social maupun cetak dapat mempengaruh seorang individu maupun sekolompok masyarakat untuk mengubah gaya berpakaiannya, dan masih banyak yang lainnya.
Sedikit paparan diatas telah menjelaskan efek dari komunikasi massa di dalam kehidupan sehari-hari. Makalah ini akan membahas lebih dalam tentang efek dari komunikasi massa kepada seorang individu, masyarakat serta budaya yang ada di dalam lingkungan.
Tujuan Makalah
  Tujuan dari makalah ini adalah:
1.      Mengetahui efek komunikasi massa pada seorang individu;
2.      Mengetahui efek komunikasi massa pada masyarakat;
3.      Mengetahui efek komunikasi massa pada budaya.


TINJAUAN TEORI
A. Pengertian Komunikasi
Dalam kamus psikologi, Dictionary of Behavioral Sceience menyebutkan enam pengertian komunikasi : 1) Penyampaian perubahan energi dari satu tempat ke tempat yang lain seperti dalam sistem saraf atau penyampaian gelombang-gelombang suara. 2) Penyampaian atau penerimaan signal atau pesan oleh organisme. 3) Pesan yang disampaikan. 4) Proses yang dilakukan satu sistem untuk mempengaruhi sistem yang lain melalui pengaturan signal-signal yang disampaiakan. 5) (K.Lewin). Pengaruh satu wilayah persona pada wilayah persona yang lain sehingga perubahan dalam satu wilayah menimbulkan perubahan yang berkaitan pada wilayah lain. 6) Pesan pasien pemberi terapi dalam psikoterapi, Wolman, 1973 dalam Rakhmat, 1991:4)
Kata Komunikasi berasal dari kata communis yang memiliki arti sama. Komunikasi mensyaratkan bahwa satu pikiran, satu makna dan satu pesan yang merujuk pada berbagai hal pada pengalaman, sehingga komunikasi dapat didefinisikan sebagai mekanisme yang menyebabkan adanya hubungan antar manusia dan yang mempekembangkan berbagai lambing pikiran, bersama-sama dengan sarana penyiaranya dalam ruang dan merekamnya dalam waktu (Charles Cooley, 1909 dalam Setiawati, 2008)
B. Pengertian Komunikasi Massa
Komunikasi massa merupakan komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak maupun elektronik yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang melembagakan dan ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar dibanyak tempat, anonym dan heterogen (Dedy Mulyana, 2000 dalam Setiawati, 2008).
Istilah komunikasi massa menunjukkan seluruh sistem dimana pesan-pesan diproduksi, dipilih untuk disiarkan dan ditanggapi. Komunikasi massa menyiarkan informasi gagasan-gagasan atau ide serta sikap kepada komunikan yang beragam dan dalam jumlah yang besar dengan media (Setiawati, 2008).
C. Efek Komunikasi Massa
Komunikator dan penerima digambarkan sebagai elemen dari dua struktur yang lebih besar yang saling terkait, misalnya melalui mekanisme umpan balik.  Dalam lingkup yang lebih luas mereka meletakkan sistem komunikasi dalam suatu keseluruhan sistem sosial, dalam masyarakat di mana orang-orang yang terlibat dalam komunikasi berinteraksi dengan berbagai kelompok di sekelilingnya dan struktur sosial yang lebih luas. Jadi, proses komunikasi massa mempengaruhi dan dipengaruhi oleh proses sosial yang lebih luas tersebut.
Pendekatan yang lebih memperhitungkan variabel lain dalam proses komunikasi massa dikemukakan oleh McLeod dan Chaffee. Dalam teori ko-orientasi mereka menjelaskan adanya hubungan yang saling mempegaruhi antara kekuatan politik,  publik,  dan media massa dalam menanggapi suatu peristiwa tertentu. Akhirnya Riley dan Riley mengemukakan teori yang lebih sosiologis dengan menyatakan bahwa dalam proses komunikasi (massa), pihak-pihak yang terlibat di dalamnya mempengaruhi dan dipengaruhi oleh primary group,  secondary group dan sistem sosial secara menyeluruh.

1.        PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU
Pada umumnya studi mengenai komunikasi massa berkaitan dengan persoalan efek komunikasi massa. Efek atau pengaruh ini telah menjadi pusat perhatian bagi berbagai pihak dalam masyarakat yang melalui pesan pesan yang hendak disampaikannya berusaha untuk menjangkau khalayak yang diinginkan.  Oleh karenanya mereka akan berusaha untuk menemukan saluran yang paling efektif untuk dapat mempengaruhi audience. Dalam konteks inilah,  pembahasan dalam bagian ini akan ditujukan pada tiga teori yaitu,  stimulus-respons,  two step flow,  dan difusi inovasi
a.    Stimulus respons
Prinsip stimulus-respons pada dasarnya merupakan suatu prinsip belajar yang sederhana, di mana efek merupakan reaksi terhadap stimuli tertentu.  Dengan demikian seseorang dapat mengharapkan atau memperkirakan suatu kaitan erat antara pesan-pesan media dan reaksi audience.  Elemen-elemen utama dari teori ini adalah: (a) pesan stimulus, (b) seorang penerima/receiver (organisme), dan (c)  efek (respons).
Prinsip stimulus-respons ini merupakan dasar dari Teori Jarum Hipodermik , yaitu teori klasik mengenai proses terjadinya efek media massa yang sangat berpengaruh. Dalam teori ini, isi media dipandang sebagai obat yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah audience, yang kemudian diasumsikan akan bereaksi seperti yang diharapkan. Di balik konsepsi ini sesungguhnya terdapat dua pemikiran yang mendasarinya. *Gambaran mengenai suatu masyarakat modern yang merupakan agregasi dari individu-individu yang relatif terisolasi (atomized)  yang bertindak berdasarkan kepentingan pribadinya,  yang tidak terlalu terpengaruh oleh kendala dan ikatan sosial. *Suatu pandangan yang dominan mengenai media massa yang seolah olah sedang melakukan kampanye untuk memobilisasi perilaku sesuai dengan tujuan dari berbagai kekuatan yang ada dalam masyarakat(biro iklan,  pemerintah,  parpol dan sebagainya).
Dari pemikiran tersebut, dikenal apa yg disebut "masyarakat massa", di mana prinsip stimulus-respons mengasumsikan bahwa pesan dipersiapkan dan didistribusikan secara sistematik dan dalam skala yang luas.  Sehingga secara serempak pesan tersebut dapat tersedia bagi sejumlah besar individu, dan bukannya ditujukan pada orang per orang. Penggunaan teknologi untuk reproduksi dan distribusi diharapkan dapat memaksimalkan jumlah penerimaan dan respons oleh audience. Dalam hal ini tidak diperhitungkan kemungkinan adanya intervensi dari struktur sosial atau kelompok sosial, dan seolah olah terdapat kontak langsung antara media dan individu.  Konsekuensinya seluruh individu yang menerima pesan dianggap sama seimbang.  Jadi,  hanya agregasi jumlah yang dikenal,  seperti konsumen,  suporter,  dan sebagainya. Selain itu diasumsikan pula bahwa terpaan pesan-pesan media,  dalam tingkat tertentu,  akan menghasilkan efek.  Jadi kontak dengan media cenderung diartikan dengan adanya pengaruh tertentu dari media, sedangkan individu yang tidak terjangkau oleh terpaan media tidak akan terpengaruh.
b.   Two step flow
Teori dan penelitian penelitian komunikasi dua tahap memiliki asumsi-asumsi sebagai berikut : (a) Individu tidak terisolasi dari kehidupan sosial, tetapi merupakan anggota dari kelompok-kelompok sosial dalam berinteraksi dengan orang lain, (b) Respons dan reaksi terhadap pesan dari media tidak akan terjadi secara langsung dan segera,  tetapi melalui dan perantara dan dipengaruhi oleh hubungan hubungan sosial tersebut, (c) Ada dua proses yg berlangsung, yang pertama mengenai  penerimaan dan perhatian.  dan yang kedua berkaitan dengan rerspon dalam bentuk persetujuan atau penolakan terhadap upaya mempengaruhi atau penyampaian informasi, (d) Individu tidak bersikap sama terhadap pesan atau kampanye media, melainkan memiliki berbagai peran yang berbeda dlm proses komunikasi dan khususnya,  dapat dibagi atas mereka secara aktif menerima dan meneruskan atau menyebarkan gagasan dari media aktif, dan mereka yang semata-mata hanya mengandalkan hubungan personal dengan orang lain sebagai panutannya, (e) Individu-individu yang berperan lebih aktif (pemuka ditandai oleh penggunaan media massa yang lebih besar,  tingkat pergaulan yang lebih tinggi,  anggapan bahwa dirinya berpengaruh terhadap orang-orang lain, dan memiliki peran sebagai sumber informasi dan panutan).
Secara garis besar, menurut teori ini media massa tidak bekerja dalam suatu situasi kevakuman sosial,  tetapi memiliki suatu akses ke dalam jaringan hubungan sosial yang sangat kompleks,  dan bersaing dengan sumber-sumber gagasan,  pengetahuan,  dan kekuasaan,  yang lainnya. 
c.    Difusi inovasi
Salah satu aplikasi komunikasi massa terpenting adalah berkaitan dengan proses adopsi inovasi.  Hal ini relevan untuk masyarakat yang sedang berkembang maupun masyarakat maju,  karena terdapat kebutuhan yang terus-menerus dalam perubahan sosial dan teknologi untuk mengganti cara-cara lama dengan teknik-teknik baru.  Teori ini berkaitan dengan komunikasi massa karena dalam berbagai situasi di mana efektivitas potensi perubahan yang berawal dari penelitian ilmiah dan kebijakan publik, harus diterapkan oleh masyarakat yang pada dasarnya berada di luar jangkauan langsung pusat-pusat inovasi atau kebijakan publik. 
Teori ini pada prinsipnya adalah komunikasi dua tahap, jadi di dalamnya dikenal pula adanya pemuka pendapat atau yang disebut juga dengan istilah agen perubahan. Oleh karenanya teori ini sangat menekankan pada sumber-sumber non-media (sumber personal, misalnya tetangga, teman, ahli, dan sebagainya), dan biasanya mengenai gagasan- gagasan baru yang dikampanyekan untuk mengubah perilaku melalui penyebaran informasi dan upaya mempengaruhi motivasi dan sikap.
 Everett A Rogers dan Floyd G. Shoemaker (1973) merumuskan kembali teori ini dengan memberikan asumsi bahwa sedikitnya ada empat tahap dalam suatu proses difusi inovasi, yaitu:  1. Pengetahuan : kesadaran individu akan adanya inovasi dan adanya pemahaman tertentu tentang bagaimana inovasi tersebut berfungsi, 2. Persuasi : individu membentuk/memiliki sikap yang menyetujui atau tidak menyetujui inovasi tersebut, 3. Keputusan : individu terlibat dalam aktivitas yang membawa  pada suatu pilihan untuk mengadopsi atau menolak inovasi, 4. Konfirmasi : individu akan mencari pendapat yang menguat keputusan yang telah  diambilnya, namun dia dapat berubah dari keputusan yang sebelumnya jika pesan-pesan mengenai inovasi yan diterimanya berlawanan satu dengan lainnya. 
Teori difusi inovatif mencakup sejumlah gagasan mengenai proses difusi inovasi sebagai berikut: 1) Teori ini membedakan tiga tahapan utama dari keseluruhan proses ke dalam tahapan anteseden, proses, dan konsekuensi. Tahap yang pertama mengacu kepada situasi atau karakteristik dari orang yang terlibat yang memun untuk diterpa informasi tentang suatu inovasi dan relevansi informasi tersebut terhadap kebutuhan-kebutuhannya. Misalnya, adopsi inovasi biasanya lebih mudah terjadi pada mereka yang terbuka terhadap perubahan, menghargai kebutuhan akan informasi,  dan selalu mencari informasi baru. 
Tahapan kedua berkaitan dengan proses mempelajari, perubahan sikap dan keputusan Di sini nilai inovatif yang dirasakan akan memainkan peran penting,  demikian pula dengan norma norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam sistem sosialnya. Jadi,  kadangkala peralatan yang secara teknis dapat bermanfaat,  tidak diterima oleh suatu masyarakat karena alasan-alasan moral atau kultura atau dianggap membahayakan struktur hubungan sosial yang telah ada. Tahapan konsekuensi dari aktivitas difusi terutama mengacu pada keadaan selanjutnya jika terjadi adopsi inovasi. Keadaan tersebut dapat berupa terus menerima dan menggunakan inovasi, atau kemudian berhenti menggunakannya lagi. 
2) Perlu dipisahkannya fungsi fungsi yang berbeda dari ‘pengetahuan', 'persuasi', 'keputusan', dan 'konfirmasi, yang biasanya terjadi dalam tahapan proses, meskipun tahapan tersebut tidak harus selesai sepenuhnya lengkap.  Dalam hal ini, proses komunikasi lainnya. Dapat juga diterapkan, misalnya beberapa karakteristik yang berhubungan dengan tingkat persuasi. Orang yang tahu lebih awal tidak harus para pemuka pendapat, beberapa penelitian menunjukkan bahwa"tahu lebih awal atau'tahu belakangan/tertinggal berkaitan dengan tingkat isolasi tertentu. Jadi, kurangnya dengan tingkat dihubungkan dengan integrasi sosial seseorang dapat masyarakat kemajuannya atau ketertinggalannya dalam masyarakat.
3) Difusi inovasi biasanya melibatkan berbagai sumber komunikasi yang berbeda(media massa,  advertensi atau promosi,  atau sosial yang informa),  dan efektivitas sumber-sumber tersebut akan berbeda pada tiap serta untuk yang berbeda pula. Jadi, media massa dan advertensi dapat berperan dalam menciptakan kesadaran dan pengetahuan, penyuluhan berguna untuk mempersuasi pengaruh antar pribadi berfungsi bagi keputusan untuk menerima atau menolak inovasi, dan pengalaman dalam menggunakan atau dapat menjadi sumber konfirmasi terus menerapkan inovasi sebaliknya. 
4) Teori ini melihat adanya variabel-variabel penerima yang berfungsi pada tahap pertama (pengetahuan), karena diperolehnya pengetahuan akan dipengaruhi oleh kepribadian atau karakteristik sosial. Meskipun demikian setidaknya sejumlah variabel penerima akan berpengaruh pula dalam tahap tahap berikutnya dalam proses difusi inovasi.  Ini terjadi juga dengan'variabel-variabel sistem sosial'  yang berperan terutama pada tahap awal(pengetahuan)  dan tahap-tahap berikutnya.
Pengaruh komunikasi massa terhadap individu yang lain dapat berupa : (a) Pengaruh ekonomis. Dimana dengan adanya lowongan pekerjaan yang ditampilkan di media massa dapat memudahkan seorang individu menemukan pekerjaan. Dampak pada penjadwalan kegiatan. Hal ini dapat dilihat dari berubahnya kebiasaan individu di pagi hari dimana seorang individu akan membaca berita di koran, majalah, maupun media online terlebih dahulu sebelum memulai aktifitasnya. Selain itu berubahnya kebiasaan individu memanfaat waktu luang nya untuk menonton televise, (b) Pengaruh pada penyaluran atau penghilangan perasaan tertentu. Pada tren sekarang anak muda banyak menggunakan media online sebagai tempat untuk mencurahkan atau menceritakan kehidupan pribadinya sehingga seseorang akan merasa nyaman dan lebih tenang setelah bercerita melalui media online.
2.    PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP MASYARAKAT DAN BUDAYA
Media massa telah menghadirkan seperangkat citra (images), gagasan,  dan evaluasi dari mana audience dapat memilih dan menjadikan acuan bagi perilakunya. Misalnya dalam hal perilaku seksual, media massa memberikan suatu pandangan kumulatif mengenai apa yang dianggap normal dan apa yang disetujui atau tidak disetujui.  Pergeseran pemikiran yang ditandai oleh perbedaan antara model psikodinamik dan teori norma budaya ini terlihat dari karakteristik efek pada kedua pemikiran tersebut. 
Pada model psikodinamik, efek adalah sesuatu yang diinginkan oleh pengirim pesan; berlangsung secara singkat (segera dan sementara); berkaitan dengan perubahan sikap, informasi, perilaku individu yang relatif terjadi melalui media. Secara umum efek tersebut relevan dengan asas kampanye yang direncanakan secara sadar menggunakan untuk publisitas. Pada bagian ini informasi atau memiliki kita terutama akan membahas proses efek yang waktu karakteristik yaitu efek yang berlangsung dalam lama, umumnya tidak terencana lebih langsung dan kolektif. 
Sebagai tambahan, fokus perhatian dalam pendekatan ini tidak pada pesan yang terpisah atau berdiri sistem pesan yang serupa. Dengan demikian kita akan hal sosialisasi, dukungan mengacu pada kecenderungan media untuk menyiratkan ideologi tertentu, pembentukan terhadap nilai-nilai bagi pendapat umum,  perbedaan distribusi pengetahuan dalam masyarakat, perubahan jangka panjang dalam hal budaya, kelembagaan dan bahkan struktur masyarakat. 
Selanjutnya akan diuraikan beberapa teori penting dalam pendekatan ini,  yaitu teori Agenda setting,  teori Dependensi,  spiral of Silence,  dan Information Gaps. 
a. Teori agenda-setting
Dari beberapa asumsi mengenai efek komunikasi massa, satu yang bertahan dan berkembang dewasa ini menganggap bahwa media massa n memberikan perhatian pada isu tertentu dan mengabaikan yang lainnya akan memiliki pengaruh terhadap pendapat umum. Orang akan cenderung mengetahui tentang hal-hal yang diberitakan media massa dan menerima susunan prioritas yang diberikan media massa terhadap isu-isu yang berbeda. Asumsi ini berhasil lolos dari keraguan yang ditujukan pada penelitian komunikasi massa yang menganggap media massa memiliki efek yang sangat kuat terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar dan bukan dengan perubahan sikap atau pendapat. Studi empiris terhadap komunikasi massa telah mengkonfirmasikan bahwa efek yang cenderung terjadi adalah dalam hal informasi. 
Teori Agenda-setting menawarkan suatu cara untuk menghubungkan temuan ini dengan kemungkinan terjadi adalah terhadap pendapat, karena pada dasarnya yang ditawarkan adalah suatu fungsi belajar dari media massa. Orang belajar mengenai isu apa, dan bagaimana isu-isu tersebut disusun berdasarkan tingkat kepentingannya. 
Teoritisi utama agenda-setting adalah Maxwell McCombs dan Donald Shaw.  Mereka menuliskan bahwa audience tidak hanya mempelajari berita-berita dan hal-hal lainnya melalui media massa, tetapi juga mempelajari seberapa besar arti penting diberikan pada suatu isu atau topik dari cara media massa memberikan penekanan terhadap topik tersebut. Misalnya, dalam merefleksikan apa yang dikatakan oleh para kandidat dalam suatu kampanye pemilu, media massa terlihat menentukan mana topik yang penting. Dengan kata lain media massa menetapkan agenda kampanye tersebut. Kemampuan untuk mempengaruhi perubahan kognitif individu ini merupakan aspek terpenting dari kekuatan komunikasi massa. Dalam hal kampanye, teori ini mengasumsikan bahwa jika para calon pemilih dapat diyakinkan akan pentingnya suatu isu maka mereka akan memilih kandidat atau partai yang diproyeksikan paling berkompeten dalam menangani isu tersebut.
 Asumsi agenda-setting ini memiliki kelebihan karena mudah dipahami dan relatif murah untuk diuji. Dasar pemikirannya adalah di antara berbagai topik yang dimuat media massa, topik yang mendapat lebih banyak perhatian dari media akan menjadi lebih akrab bagi pembacanya dan akan dianggap penting dalam suatu periode waktu tertentu,  dan akan terjadi sebaliknya bagi topik yang kurang mendapat perhatian media. Perkiraan ini dapat diuji dengan membandingkan hasil dari analisis isi media secara kuantitatif dengan perubahan dalam pendapat umum yang diukur melalui survei pada dua(atau lebih waktu yang berbeda. 
b. Teori dependensi
Teori yang dikembangkan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin L Def(1976)  memfokuskan perhatiannya pada kondisi struktural suatu masyarakat yang mengatur kecenderungan terjadinya suatu efek media massa. Teori ini pada dasarnya merupakan suatu pendekatan struktur sosial yang berangkat dari gagasan mengenai sifat suatu masyarakat modern (atau masyarakat massa), di mana media massa dapat dianggap sebagai sistem informasi yang memiliki peran penting dalam proses pemeliharaan perubahan, dan konflik pada tataran masyarakat,  kelompok atau individu dalam aktivitas sosial. 
Pemikiran terpenting dari teori ini adalah bahwa dalam masyarakat modern, audience menjadi tergantung pada media massa sebagai sumber informasi bagi pengetahuan tentang dan orientasi kepada apa yang terjadi dalam masyarakatnya.  Jenis dan tingkat ketergantungan akan dipengaruhi oleh sejumlah kondisi struktural, meskipun kondisi terpenting terutama berkaitan dengan konflik atau tidak stabilnya tingkat perubahan masyarakat tersebut. Dan kedua, berkaitan dengan apa yang dilakukan media pada dasarnya melayani berbagai fungsi informasi.  
Dengan yang demikian teori ini menjelaskan saling hubungan antara tiga perangkat variabel utama dan menentukan jenis efek tertentu sebagai hasil interaksi antara ketiga variabel tersebut.  ditujukan pada jenis pembahasan lebih lanjut mengenai teori ini jenis efek yang dapat dipelajari melalui teori ini. Secara ringkas kajian terhadap efek tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.   Kognitif
- Menciptakan atau menghilangkan ambiguitas. 
- Pembentukan sikap. 
- Perluasan sistem keyakinan masyarakat.
- Penegasan/penjelasan nilai-nilai
2.  Afektif
- Menciptakan ketakutan atau kecemasan. 
- Meningkatkan atau menurunkan dukungan moral. 
3.  Behavioral
- Mengaktifkan/menggerakkan atau meredakan. 
- Pembentukan isu tertentu atau penyelesaiannya. 
- Menjangkau atau menyediakan strategi untuk suatu aktivitas. 
- Menyebabkan perilaku dermawan (menyumbangkan uang) 
Lebih lanjut Ball-Rokeach dan DeFleur mengemukakan bahwa ketiga komponen yaitu audience, sistem media dan sistem sosial saling berhubungan satu dengan lainnya, meskipun sifat hubungan ini berbeda antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya.  Setiap komponen dapat pula memiliki cara yang beragam yang secara langsung berkaitan dengan perbedaan efek yang terjadi.  Seperti misalnya: (a) Sistem sosial akan berbeda-beda (bervariasi) sesuai dengan tingkat stabilitasnya. Ada kalanya sistem sosial yang stabil akan mengalami masa masa krisis, (b) Sistem sosial yang telah mapan dapat mengalami tantangan legitimasi dan ketahanannya secara mendasar.   
c. Spiral of silence
Teori spiral of silence atau spiral kebisuan berkaitan dengan pertanyaan mengenai bagaimana terbentuknya pendapat umum. Dikemukakan pertama kali oleh Elizabeth Noelle Neuman, sosiolog Jerman, pada tahun 1974, teori ini menjelaskan bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut terletak dalam suatu proses saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi, dan persepsi individu atas pendapatnya sendiri dalam hubungannya dengan pendapat orang lain dalam masyarakat. 
Teori ini mendasarkan asumsinya pada pemikiran sosial psikologis tahun 30-an yang menyatakan bahwa pendapat pribadi sangat tergantung pada apa yang dipikirkan/diharapkan oleh orang lain atau atas apa yang orang rasakan/anggap sebagai pendapat dari orang lain. Berangkat dari asumsi tersebut, spiral of silence selanjutnya menjelaskan bahwa individu pada umumnya berusaha untuk menghindari isolasi, dalam arti sendirian mempertahankan sikap atau keyakinan tertentu. Oleh karenanya orang akan mengamati lingkungannya untuk mempelajari mana yang bertahan dan mendapatkan dukungan dan mana yang tidak dominan atau popular. Jika orang merasakan pandangannya termasuk di antara yang tidak dominan atau tidak populer, maka ia cenderung kurang berani mengekspresikannya, karena adanya ketakutan akan isolasi tersebut.
Jumlah orang yang tidak secara terbuka mengekspresikan pendapat yang berbeda dan perubahan dari pendapat yang berbeda kepada pendapat yang dominan. Sebaliknya, pendapat yang dominan akan menjadi semakin luas dan kuat. Semakin banyak orang merasakan kecenderungan ini dan menyesuaikan pendapatnya, maka satu kelompok pendapat akan menjadi dominan, sementara lainnya akan menyusut. Jadi kecenderungan akan untuk menyatakan pendapat dan orang lainnya menjadi diam mengawali suatu proses spiral satu pendapat sebagai pendapat yang meningkatkan kemapanan Tentunya persepsi umum atau pendapat yang dominan dalam proses ini, individu bukan satu-satunya kekuatan yang bekerja lainnya. 
Apa yang dan media massa merupakan salah satu kekuatan tertentu seringkali menjadi pandangan yang dominan pada suatu waktu ditentukan oleh media.  Kekuatan lain yang bekerja dalam proses ini adalah tingkat dukungan orang orang dalam lingkungan seseorang. Ketika orang tinggal diam, orang-orang di sekelilingnya akan melakukan hal yang sama, dengan demikian definisi media massa adalah pandangan seseorang dalam komunikasi antar pribadi,  akan semakin menguat dan menghasilkan spiral kebisuan tersebut. 
d. Information gaps
Dalam membahas efek jangka panjang komunikasi massa, tampaknya penting untuk dikemukakan suatu pokok bahasan yang disebut sebagai celah informasi atau celah pengetahuan (information atau knowledge gaps). Latar belakang pemikiran ini terbentuk oleh adanya arus informasi yang terus meningkat, yang sebagian besar dimungkinkan oleh media massa. Secara teoretis peningkatan ini akan menguntungkan setiap orang dalam masyarakat karena setiap individu memiliki kemungkinan Untuk mengetahui apa yg terjadi sekelilingnya atau di dunia untuk mengetahui apa yang terjadi d tentunya akan membantu dirinya dalam memperluas wawasan,  Meskipun demikian sejumlah peneliti menunjukkan bahwa peningkatan arus informasi seringkali menghasilkan efek negatif di peningkatan pengetahuan pada kelompok akan jauh ninggal melebihi kelompok lainnya.  Dalam hal information kelompok terjadi dan terus meningkat sehingga menimbulkan osial yang satu dengan yang lain dalam hal pengetahuan mengenai suatu topik tertentu.
Phillip menor (1970)  yang mengawali pemikiran tentang knowledge gaps ini menjelaskan bahwa ketika arus informasi dalam suatu sistem sosial meningkat,  maka mereka yang berpendidikan yaitu mereka yang memiliki status sosial ekonomi yang lebih baik,  akan lebih mudah lebih cepat, dan lebih baik dalam menyerap informasi dibandingkan mereka yang kurang berpendidikan dengan status yang lebih rendah.  Jadi, meningkatnya informasi akan celah pengetahuan dari pada mempersempitnya. Sementara itu Everett M. Rogers (1976)  memperkuat tersebut dengan mengatakan bahwa informasi bukan hanya menghasilkan melebarnya knowledge gaps, tetapi juga gaps yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Lebih lanjut dia mengemukakan bahwa komunikasi massa bukan satu-satunya penyebab terjadiny gaps tersebut, karena komunikasi langsung antar individu dapat memiliki efek yang serupa.
 Suatu konsep lain yang dikemukakan oleh sekelompok peneliti dari Swedia, menjelaskan tentang karakteristik dan sumber-sumber yang memungkinkan seseorang untuk memberi dan menerima informasi, dan yang membantu proses komunikasi bagi dirinya. Konsep yang disebut potensi komunikasi tersebut dipandang sebagai alat untuk mencapai/ mendapatkan nilai-nilai tertentu dalam hidupnya. Ukuran dan bentuk potensi komunikasi tergantung pada tiga karakteristik utama, yaitu :
1. Karakteristik pribadi  
Orang memiliki sekaligus kemampuan alamiah seperti melihat atau berbicara,  dan kemampuan yang diperoleh melalui pembelajaran seperti berbicara dalam beberapa bahasa yang berbeda. Disamping itu ia memiliki potensi komunikasi, pengetahahuan, sikap,  dan kepribadian tertentu
2. Karakteristik seseorang tergantung pada posisi sosialnya
Posisi ditentukan oleh umur, dan jenis kelamin seperti penghasilan, pendidikan.
3. Karakteristik dari struktur sosial di mana seseorang berada. 
Salah satu faktor penting adalah berfungsinya primary group (misalnya keluarga, kelompok kerja), dan secondary group (misalnya organisasi. sekolah, klub)  dalam hal komunikasi. Dalam konteks ini, adalah relevan untuk menganggap masyarakat sebagai tujuan sistem komunikasi.
 Potensi tersebut dapat membawa pada pencapaian nilai-nilai dan tujuan tertentu. Sebagai contoh, pembentukan identitas diri dan tumbuhnya solidaritas dapat mempengaruhi situasi kehidupan seseorang dan dapat mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan. Jika kita tempatkan konsep di atas dalam konteks media massa, maka kita harus menganggap ketiga karakteristik tersebut sebagai variabel independen dan tingkat pencapaian nilai dan tujuan sebagai variabel dependen (efek konsekuensi).   
Berangkat dari pemikiran tentang adanya berbagai information gaps dalam suatu masyarakat, dan anggapan bahwa gaps yang berbeda terjadi dalam berbagai bentuk dan cara yang berbeda pula akan cenderung meningkat seiring dengan waktu. Thunberg (1979)  mengemukakan bahwa hal ini dapat terjadi, namun pada situasi sebaliknya dapat pula terjadi. Yaitu ketika gaps yang status awalnya melebar akhirnya dapat menutup ketika kelompok yang yang sosial ekonominya lebih rendah dapat menyusulnya. Dalam hal ini terjadi hanyalah persoalan waktu saja. Pada awalnya, ketika kelompok yang diuntungkan karena memiliki akses dan exposure pada komunikasi rmer yang lebih baik (memiliki potensi komunikasi yang tinggi)  dengan cepat mampu menyerap informasi tentang topik tertentu yang beredar dalam masyarakat. Meskipun demikian pada akhirnya kelompok yang memiliki potensi komunikasi rendah akan dapat menyusul penyerapan informasi tersebut sehingga gaps akan menutup, artinya ada model semacam itu disebut memiliki ceiling effects, plafon atau batas tertentu dalam penyerapan informasi.
 Ceiling effects  terjadi jika potensiinformasi mengenai suatu topik tertentu adalah terbatas. Mereka yang memiliki kapasitas yang besar dalam menyerap informasi, setelah sekian waktu tidak akan menemukan lagi informasi yang tersisa mengenai suatu topik tertentu. Hal ini menyebabkan kelompok dengan potensi komunikasi yang rendah akan mampu menyusulnya. Efek ini juga dapat terjadi jika kelompok yang potensial tidak lagi memiliki motivasi untuk mencari lebih banyak informasi, sementara kelompok yang kurang potensial masih termotivasi,  sehingga dalam waktu tertentu mereka juga akan menjadi tidak  well informed.
Meskipun demikian Donohue (1975)  menegaskan bahwa semua gaps menutup. Beberapa penelitian yang dilakukannya di Amerika menunjukkan bahwa perhatian yang besar terhadap media menghasilkan pelebaran gaps antara mereka yang berpendidikan tinggi dengan mereka yang berpendidikan rendah.  Diungkapkan pula bahwa ketika suatu topik tidak lagi menjadi pembicaraan sehingga tidak umum, ada lagi atau hanya sedikit orang yang masih membicarakannya, gaps antara mereka yang memiliki potensi komunikasi tinggi dan mereka yang memiliki potensi komunikasi rendah akan tetap sama (tidak menutup)  atau bahkan menjadi melebar. 
Agenda setting menjelaskan bahwa media dengan menyusun prioritas topik akan mempengaruhi perhatian audience terhadap topik mana yang dianggap lebih penting dari topik lainnya. Dengan kata lain dengan menyusun agenda pemberitaannya media akan mempengaruhi agenda audience-nya meskipun hanya sampai pada tataran kognitif.  Teori dependensi menyatakan bahwa efek dari suatu proses komunikasi massa merupakan hasil interaksi berbagai subsistem dalam suatu sistem sosial tertentu. Efek yang memiliki tiga tataran yaitu kognitif, efektif, dan behavioral merupakan hasil dari hubungan antara sistem sosial, sistem media dan audience.  Spiral of silence berkaitan dengan proses terbentuknya pendapat yang dominan (pendapat umum)  dalam masyarakat.


PENUTUP
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi dapat didefinisikan sebagai mekanisme yang menyebabkan adanya hubungan antar manusia dan yang mempekembangkan berbagai lambing pikiran, bersama-sama dengan sarana penyiaranya dalam ruang dan merekamnya dalam waktu. Sedangkan komunikasi massa yaitu proses dimana organisasi media membuat dan menyebarkan pesan kepada khalayak banyak (publik).
Proses komunikasi massa mempengaruhi dan dipengaruhi oleh proses sosial yang lebih luas. Pendekatan yang lebih memperhitungkan variabel lain dalam proses komunikasi massa dikemukakan oleh McLeod dan Chaffee. Efek komunikasi massa terhadap individu dijelaskan dalam tiga teori, yaitu : stimulus-respons,  two step flow,  dan difusi inovasi. Efek komunikasi massa terhadap masyarakat dan budaya dijelaskan dalam tiga teori, yaitu : Agenda setting,  teori Dependensi,  spiral of Silence,  dan Information Gaps.












DAFTAR PUSTAKA
Daryanto, & Rahardjo, M. (2016). Teori Komunikasi. Yogyakarta: Penerbit Gava Media.
Rakhmat, J. (1991). Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.
Setiawati, I. (2008, Desember). Peran Komunikasi Massa dalam Perubahan Budaya dan Perilaku Masyarakat. Fokus Ekonomi, Vol. 3 No.2, 44-55.


Comments

Popular posts from this blog

JUNG SKIN CARE

BOYFRIEND