Explore Bali Pt.1

Assalamualaikum wr.wb
     Kali ini aku mau cerita tentang beberapa tempat yang aku kunjungin sama keluarga pas liburan ke Bali. Ini kompilasi dari 2 kali liburanku dan mungkin di part 4 atau selanjutnya aku ceritain juga saat study tour ya karena dulu saat aku pernah ketempat itu belum ada DSLR jadi fotonya belum ada. Let's enjoy my story

1. Kerta Gosa ( Kertha Gosa Pavilion)

(source : google)

   Source : @nadsjungxox

   Sejarah singkat
 Kerta Gosa adalah salah satu obyek wisata andalan kabupaten Klungkung, Bali. Dibangun pada tahun 1686 oleh Dewa Agung Jambe, Taman Gili Kerta Gosa memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki obyek wisata lainnya. Kerta Gosa adalah sebuah bangunan terbuka (bale) yang secara resmi merupakan bagian dari kompleks Puri Semarapura. Terletak di jantung kota Semarapura, ibukota Kabupaten Klungkung, di sebelah pasar utama. Kerta Gosa telah direnovasi dan dilestarikan oleh pemerintah. Di dalam tembok dengan ukiran Bali tradisional, terdapat dua bangunan tinggi berdiri yaitu, disebut Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang (Taman Gili). Bale Kerta Gosa merupakan sebuah bangunan tinggi di sudut kanan setelah pintu masuk, serta Bale Kambang yang lebih besar terletak di tengah dan dikelilingi oleh kolam.
    Selain arsitektur bangunan yang indah, keunikan Kerta Gosa terletak di langit-langit bale yang ditutupi dengan lukisan tradisional bergaya Kamasan. Kamasan adalah sebuah desa di kecamatan Klungkung yang terkenal dengan ciri khas lukisan wayangnya. Lukisan Kamasan biasanya mengambil epik seperti Ramayana atau Mahabharata sebagai tema lukisan. Lukisan Kamasan biasanya ditemukan di Pura-Pura sebagai hiasan yang memiliki banyak arti. Sebelumnya lukisan di langit-langit Kerta Gosa dibuat pada kain, namun pada tahun 1930 dipugar dan dicat pada eternit. Lukisan-lukisan di langit-langit Kerta Gosa menawarkan pelajaran rohani yang berharga. Jika seseorang melihat hal ini secara rinci, pada setiap bagian langit-langit menceritakan cerita yang berbeda, terdapat satu bagian yang bercerita tentang karma dan reinkarnasi, dan bagian lain menggambarkan setiap fase kehidupan manusia dari lahir sampai mati. Lukisan dibagi menjadi enam tingkatan, yang mewakili akhirat, serta yang paling atas yaitu nirwana.
    Bale Kambang adalah sebuah bangunan indah di tengah kolam. Lukisan Kamasan di langit-langit menggambarkan kisah dari epik Sutasoma. Kedua sisi dari jembatan menuju bale dijaga oleh patung-patung yang mewakili karakter dari epik dengan latar belakang kolam teratai. Tema dalam lukisan menunjukkan bahwa bangunan tersebut difungsikan sebagai tempat bagi keluarga kerajaan untuk mengadakan upacara agama untuk ritual Manusa Yadnya seperti pernikahan dan upacara potong gigi. Kerta Gosa ternyata juga pernah difungsikan sebagai balai sidang pengadilan yaitu selama berlangsungnya birokrasi kolonial Belanda di Klungkung (1908-1942) dan sejak diangkatnya pejabat pribumi menjadi kepala daerah kerajaan di Klungkung (Ida I Dewa Agung Negara Klungkung) pada tahun 1929. Bahkan, bekas perlengkapan pengadilan berupa kursi dan meja kayu yang memakai ukiran dan cat prade masih ada. Benda-benda itu merupakan bukti-bukti peninggalan lembaga pengadilan adat tradisional seperti yang pernah berlaku di Klungkung dalam periode kolonial (1908-1942) dan periode pendudukan Jepang (1043-1945). Pada tahun 1930, pernah dilakukan restorasi terhadap lukisan wayang yang terdapat di Kerta Gosa dan Bale Kambang oleh para seniman lukis dari Kamasan dan restorasi lukisan terakhir dilakukan pada tahun 1960.

source : (http://www.klungkungkab.go.id/index.php/baca-pariwisata/84/kerta-gosa)

     Kalian yang mau berkunjung disini bisa datang pukul 08.00 WITA-15.00 WITA dengan harga tiket sebesar 12.000 rupiah. Mungkin harga tiket bisa berubah sewaktu-waktu, tapi untuk wisatawan domestik biasanya harga tiket lebih miring hehe. Pengunjung yang datang ke Kerta Gosa akan diberikan sarung penutup, biasanya bagi pengunjung yang memakai pakian sedikit terbuka atau minim. Tapi kalau pakaian yang digunakan sudah sopan biasanya tidak diberikan sarung penutup.

2. Monumen Puputan Klungkung


                                                        Source : @nadsjungxox
Sejarah singkat
     Tugu atau bangunan ini menjulang tinggi setinggi 28 meter dari alas/dasar bangunan di tengah-tengah kota Semarapura berbentuk Lingga-Yoni yang dibangun pada areal seluas 123 meter persegi, diberi nama Monumen Puputan Klungkung yang peresmiannya dilakukan oleh Bapak Menteri Dalam Negeri pada tanggal 28 April 1992. Seluruh bangunan monumen tersebut dibuat dengan batu hitam sehingga selaras dengan makna filsafat Hindu yaitu puputan atau perang habis-habisan yang dilakukan oleh putra-putri terbaik kerajaan klungkung bersama-sama dengan rakyatnya. Monumen puputan Klungkung terletak ditengah-tengah Kota Semarapura sehingga mudah dicapai dengan baik dari arah Denpasar, Besakih, Candi Dasa, karena berdiri di pinggiran jalur lalu lintas yang ramai. Letak monumen Puputan Klungkung sangat strategis karena berdekatan dengan Kertha Gosa/Taman Gili, Pusat Pertokoan, Pasar Tradisional dan Kantor Pemerintah.
      Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa-jasa pahlawannya, demikian untaian kata-kata yang menjadikan motivasi Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Klungkung dalam membangun monumen Puputan Klungkung guna mengenang dan menghargai jasa-jasa para pahlawan ksatria yang telah gugur dan rela mengorbankan jiwa raganya serta harta bendanya dalam mempertahankan dan menjunjung harga diri serta martabat nusa dan bangsa dari perkosaan oleh kolonial. Monumen Puputan Klungkung yangmerupakan Tugu peringatan dari suatu peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari selasa Umanis tanggal 28 April 1908 dan pada areal monumen tersebut telah terjadi/pernah terjadi puputan atau perang habis-habisan yang merupakan satu bukti perlawanan gigih melawan usaha-usaha penjajah Belanda dalam menancapkan kuku-kuku imprealismenya.
      Rakyat Klungkung yang cinta kemerdekaan sangat menghormati dan menjunjung tinggi keluhuran dan kesucian tumpah darah dibawah pimpinan seorang raja yang berkuasa pada waktu itu dan diikuti para bahudanda yang setia telah gugur bergelimang darah akibat hantaman peluru-peluru Belanda. Itulah Klungkung yang walaupun wilayahnya hanyalah setitik kecil dari wilayah persada nusantara, namun sanggup menjunjung dan memegang teguh jiwa heroisme dan patriotisme melalui perang puputan. Monumen Klungkung berbentuk Lingga dan yoni didirikan di atas areal seluas 123 meter persegi, dilengkapi dengan 4 buah balai bengong pada sdudut-sudut halamannya. Bagian baweah lingga terdapat ruangan yang sangat besar berupa gedung persegi empat yang berpintu masuk berupa gapura sebanyak 4 buah yakni satu dari timur, satu dari selatan, satu dari barat dan satu lagi dari utara. Ketinggian monumen itu dari dasar sampai ke puncak lingga adalah 28 m. Sedangkan antara gedung/ruang bawah dengan lingga terdapat semmacam bangunan kubah bersegi delapan dialasi kembang-kembang teratai sebanyak 19 buah. Ini keseluruhannya mencerminkan tanggal 28 april 1908. Puputan Klungkung itu kini diperingati setiap tahun. Sedangkan di dalam ruangan monumen dilengkapi dengan diorama, yang menggambarkan perjuangan rakyat Klungkung bersama rajanya.

source : (http://www.klungkungkab.go.id/index.php/baca-pariwisata/106/monumen-puputan-klungkung)


     Monumen ini bisa dikunjungi kapan saja. Namun untuk bisa masuk kedalam museum di monumen ini kalian bisa datang pukul 10.00 WITA - 15.00 WITA. Untuk harga masuk museumnya sepertinya gratis. Tapi aku nggak tau pastinya karena jarang bareng kesana diatas jam 10.00 pagi. Kalian juga bisa melihat air mancur berwarna-warni setiap sabtu malam. Karena kebetulan pas sabtu malam nggak sempet kesana jadi belum bisa lihat air mancur berwarnanya. Tapi dari cerita-cerita yang aku dapat dari tante dan sepupuku, air mancurnya keren gitu. Jadi bisa menambah ke eksotikan monumen ini di malam hari.

    
3. Pantai Kusamba

 

   Source : @nadsjungxox

     Nama Kusamba berasal dari nama daerah tempat pantai ini berada, yakni Desa Kusamba, Kecamatan Dawun, Kabupaten Klungkung. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan mengingat nama pantai ini. Dari kota Semarapura, anda bisa menjangkau pantai Kusamba sejauh 7 km perjalanan. Sedangkan jika anda dari bandara Ngurah Rai anda membutuhkan waktu 90 menit perjalanan atau sekitar 29 km jika dari Denpasar. Pantai ini cocok sekali dijadikan tempat melihat matahari terbit (sunrise). Kalian bisa datang pukul 05.30 WITA untuk dapat menikmati indahnya mentari pagi.

Sejarah singkat
     Dalam sejarah, desa dan pantai Kusamba sama-sama memberikan arti penting. Dahulu desa Kusamba merupakan ibukota kedua Kerajaan Klungkung ketika dipimpin Ida I Dewa Agung Putra Kusamba. Untuk mendukung pemerintahannya, Ida I Dewa Agung Putra Kusamba pun mendirikan istana di desa ini dengan nama Kusanegara. Selain membangun istana, Kusamba juga ia jadikan sebagai pelabuhan dan benteng kerajaan. Masyarakat di Kusamba kala itu juga mahir dalam membuat keris dan berbagai senjata tajam yang lain. Keahlian ini pun masih diteruskan oleh masyarakat Banjar Pande. Sedangkan masyarakat Kusamba lebih terkenal dengan nelayan dan petani garamnya. Di desa Kusamba juga pernah terjadi peritiwa heroik, yakni Perang Kusamba. Peristiwa ini begitu membanggakan bagi masyarkat Klungkung karena dalam peristiwa tersebut mereka berhasil membunuh Jenderal AV Michiels. Jenderal ini merupakan pimpinan ekspedisi Belanda ke Bali.
     Meski demikian, kehadiran Desa Kusamba tak pernah diketahui secara jelas kapan tanggala atau tahunnya. Namun kata Kusa berarti ilalang atau ambengan sehingga diperkirakan bahwa dahulunya desa Kusamba merupakan padang ilalang yang luas. Desa Kusamba sendiri juag sering disebutkan dalam berbagai kepustakaan tradisional. Misalnya saja dalam lontar Dwijendra Tattwa disebutkan bahwa Danghyang Nirartha melalui pantai Kusamba untuk menuju pura goa lawah. Dalam lontar Babad Jimbaran juga disebutkan bahwa ada sekelompok pengungsi yang merupakan orang Pasek dari Kusamba dengan dipimpin Dhalem Petak Jingga. Keturunan kelompok ini pun masih ada hingga kini dan nyungsung sebuah pura yang diberi nama Pura Dukuh. Jika benar demikian, maka diperkirakan desa Kusamba telah ada sebelum tahun 1138 Masehi. Karena Dhalem Petak Jingga merupakan putra mahkota kerajaan Gelgel dan anka dari Dhalem Putih yang mendirikan Desa Jimbaran. Dalam piyagem dalam lontar beraksara Bali yang berada di Pura Ulun Swih desa Jimbaran telah ada sekitar tahun 1060 Saka atau 1138 Masehi.
     Desa Kusamba juga dikenal sebagai kampung muslim di Bali dan menjadi kampung muslim pertama di Klungkung. Islam di kampung ini disebarkan oleh Habib Ali Bin Abubakar Bin Umar Bin Abubakar Al Khamid. Makam Habib Ali ini pun juga berada di desa ini, tepatnya di pinggir pantai. Kehidupan masyarakat muslim desa Kusamba dengan masyarakat hindu Kusamba berjalan begitu harmonis dan berdampingan. Masyarakat muslim juga kerap dilibatkan dalam berbagai keputusan yang menyangkut hajat banyak orang. Dan hal ini telah berlangsung sejak zaman nenek moyang. Bahkan sang Habib Ali juga dikenal dekat dengan kerajaan Gelgel dan menjadi penerjemah bahasa melayu untuk sang raja. Selain makam sang Habib, di desa Kusamba juga bisa ditemukan al-Qur’an tertua, yang hampir berusia 400 tahun. Al-Qur’an ini ditulis tangan oleh ulama besar dari Bugis dan berjumlah tiga buah. Sayangnya siapa nama ulama tersebut belum diketahui. Karena telah berusia ratusan tahun, maka kondisi al-Qur’an tersebut telah rapuh dan terkoyak. Kini al-Qur;an tersebut disimpan di Kantor Kepala Desa Kusamba, Klungkung.

source  : (http://www.anythingbali.com/pantai-kusamba-yang-sarat-sejarah/)

     Paling asyik mengunjungi pantai ini di pagi hari. Kalian berkesempatan buat liat sunrise. Nggak kalah kok sama Sanur hehe. Karena lebih deket dari rumah, jadi lebih enak kesini. Selain itu karena ada saudara yang rumahnya di daerah sini, sekalian silaturahmi. Disana juga banyak yang jual makanan-minuman ringan, sate lilit khas bali, dan makanan tradisional lainnya. Bisa dimakan dipinggir pantai. Jadi kelihatan romantis gitu. Kalo kalian pengen juga sekalian wisata religi, di Pantai ini juga ada makam penyebar islam pertama di Bali. Selain Sejarah Wali Songo di Jawa, bisa juga dicoba sejarah Wali di Bali.
     Sepertinya untuk bayar retribusi disini gak ada, parkir gratis, WC juga sepertinya gratis. Jadi kalian tinggal bawa baju buat berenang dan bawa uang buat beli makanan. Pastikan juga kalo datang ke pantai pas musim kemarau soalnya sunrise lebih sering terlihat. kalau datang di musim hujan, bisa lihat sunrise jika cuaca sedang mendukung. Karena beberapa kali kesana pas hujan, jadi gagal nonton sunrise.


4. Pelabuhan Padang Bai
                                                     Source : @nadsjungxox

Sejarah singkat

     Nama desa Padangbai sebenarnya diberikan oleh Belanda. Dulunya desa ini bernama desa Padang. Karena terletak di sebuah teluk dangkal berperairan tenang, Belanda, dalam usahanya menjadikan Bali sebagai wilayah jajahannya, membangun tangsi sekaligus pelabuhan di sana. Oleh Belanda, teluk Padang disebut Padang Baai. Baai dalam bahasa Belanda berarti Teluk. Setelah kemerdekaan Indonesia, nama desa Padang diubah menjadi Teluk Padang. Namun, para wisatawan dan penulis-penulis buku traveling asing, menyebutnya sebagai Padang Bay, yang dalam terjemahannya berarti Teluk Padang.
     Selain itu nama Padangbai juga disebut-sebut dalam naskah-naskah kuno antara lain dalam Prasasti Kehen B yang bunyinya "Mpu Kuturan menyusul saudaranya turun ke Bali tahun Çaka 923 (th 1001 M), berperahu daun kapu-kapu dan berbidakkan daun bende, turun di Pantai "Padang". Demikian bunyi Prasasti yang menyebutkan Pemargin Mpu Kuturan ke Bali : “Kunang sira Mpu Kuturan turun wentening Bali, apadawu witning kapu-kapu, abidak rwaning benda, turun maring kakisiking Bali ring Padang, kala diwe udha siwa wara Pahang, titi sukla paksa madu, sirsa caksu, I sakyem gni suku babahan udani dita 923, neher winangunaken Parhyangan Silayukti, ayoga swala Brahmacari”. Pantai Padang yang dimaksud dalam prasasti tersebut adalah Padangbai dikarenakan adanya Pura Silayukti tempat pemujaan Mpu Kuturan di Padangbai.
Secara administratif, nama Teluk Padang masih digunakan sampai pada tahun 1992. Kemudian setelah resmi menjadi desa yang berdiri sendiri, nama ini kemudian diganti menjadi Padangbai.
     Selain menjadi kota pelabuhan, kota ini juga menawarkan para wisatawan dengan kehidupan kota pantai kecil yang indah dan tenang yang berupa teluk di mana di sebelah timurnya terdapat sebuah tanjung yang dinamakan tanjung sari yang namanya diambil dari nama sebuah tempat suci pura pemujaan Empu Bharadah yang bernama Pura Tanjung Sari. Selain pantai utama yang berpasir putih, di sini juga terdapat 2 pantai lain yang berpasir putih yaitu pantai Padang Kurungan di sebelah timur dan pantai Bias Tugel di sebelah barat. Pantai Padang Kurungan merupakan pantai yang indah yang terkenal karena keindahan bawah lautnya yang didominasi oleh ikan hias berwarna-warni dan soft coral dan keberadaan laguna biru di tengah pantainya yang indah sehingga pantai ini sering juga disebut pantai Blue Lagoo. Sedangkan pantai Bias Tugel (White Sand Beach) yang terletak di sebelah barat pantai utama Padangbai, terkenal keindahannya karena pasir putihnya yang terhampar luas dan lautnya yang biru dan jernih.

source : (wikipedia indonesia)

     Pantai ini bersebelahan dengan Pelabuhan Padang Bai. Pantai ini pasirnya putih bersih, banyak kerang-kerang dan batu-batuan laut juga diatasnya, jadi bisa sekalian dibawa pulang buat bikin aquarium di rumah lebih kece. Dari pelabuhan ini kalian bisa naik kapal menuju Nusa Penida atau Menuju Pulau Lombok. Karena aku belum pernah ke Nusa Penida dan Lombok dengan menaiki Ferry dari Pelabuhan ini, jadi aku nggak bisa bahas banyak hehe. Di sekitar pantai ini terdapat banyak sekali restoran dan hotel yang bisa digunakan untuk menginap. Tapi biasanya harga yang diatwarkan mengikuti harga wisatawan intl. Jadi ya kalo di rupiahin jatohnya mahal juga. Ada juga penyewaan boat dan snorkling disini.

   Kalo aku pas kesana lebih suka berenang, jadi nggak minat buat naik boat apalagi snorkling. Kadar garam di pantai ini lumayan tinggi jadi semacam laut mati gitu, pas renang bisa ngambang. Semakin ketengah laut, banyak banget teripang, jadi pas jalan ketengah ada sensasi geli-geli gimana gitu hehehe. But, overall pantai ini keren dan cocok buat dijadikan destinasi wisata.

5. Taman Ujung Soekasada



                                                          Source : @nadsjungxox
Sejarah singkat
     Taman Ujung atau Taman Sukasada, adalah sebuat taman di Banjar Ujung, desa Tumbu, kecamatan Karangasem, Karangasem, Bali. Taman ini terletak sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Amlapura. Pada masa Hindia Belanda tempat dikenal dengan nama Waterpaleis atau "istana air". Taman Ujung Karangasem dibangun oleh raja Karangasem I Gusti Bagus Jelantik, yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem. Pada awalnya luasnya hampir 400 hektare, tetapi sekarang hanya tinggal sekitar 10 hektare. Kebanyakan tanah tersebut sudah dibagikan kepada masyarakat pada masa land reform. Taman ini adalah milik pribadi keluarga Puri Karangasem. Namun pengunjung umum diperbolehkan mengunjunginya.
     Taman Ujung dibangun tahun 1909 atas prakarsa Anak Agung Anglurah. Arsiteknya adalah seorang Belanda bernama van Den Hentz dan seorang Cina bernama Loto Ang. Pembangunan ini juga melibatkan seorang undagi (arsitek adat Bali). Taman Ujung sebenarnya adalah pengembangan dari kolam Dirah yang telah dibangun tahun 1901. Pembangunan Taman Ujung selesai tahun 1921. Tahun 1937, Taman Ujung Karangasem diresmikan dengan sebuah prasasti marmer yang ditulisi naskah dalam aksara Latin dan Bali dan dua bahasa, Melayu dan Bali.
     Di taman ini terdapat 3 buah kolam besar, 1 kolam berada di bagian selatan dan 2 kolam lainnya berada di bagian utara. Pada kolam bagian selatan, terdapat bangunan di tengah-tengah kolam yang disebut dengan ‘Bale Bengong’. Bangunan ini tidak memiliki tembok, hanya ada tiang beton untuk menopang atap dari bangunan ini. Dahulu bangunan ini diperuntukan untuk menjamu tamu-tamu kehormatan di kerajaan karangasem. Kolam di bagian utara lebih besar diabandingkan kolam di bagian selatan. Di tengah kolam ini terdapat sebuah jembatan untuk menyebrangi kolam ini. Di ujung jembatan tepatnya di tengah kolam bagian utara terdapat sebuah bangunan yang dulunaya digunakan sebagai tempat peristirahatan para raja. Oleh masyarakat, bangunan ini disebut sebagai “Istana Gantung” karena memang bangunan ini terlihat seperti menggantung. 

source : (wikipedia indonesia, http://wisatabaliutara.com/2015/01/taman-ujung-karangasem-wisata-indah-di-bali.html/)

    Tempat ini terletak paling ujung timur bali. Persis dipisahkan sama jalan aja disebelahnya pantai dan laut membentang. Biru cerah menggemaskan syekali lautnya. Harga tiket masuk 10.000 per orang. Tapi kalo bawa dede bayi atau anak yang belum 10 tahun bisa setengah biaya atau malah gratis. Harga segitu itu juga bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. kalian kalo mau tau pasti harganya bisa cek di google juga. Karena kesana selalu beramai-ramai dengan rombongan sirkus keluarga, jadi yang bayarin selalu mama. Tapi rada sedih dulu pas pertama gatau kalo bawa DSLR bayar 50.000, lebih mahal dari tiket masuknya. Yaudah deh, namanya plesiran kalo gak pake foto-foto kan ya kurang. Tahun 2016 kemaren pas abis lebaran, main lagi kesana, tapi dengan personil berbeda. Karena udah tau bakalan bayar kameranya kalo ketauan bawa masuk, akhirnya kita bawa tas ransel dan masuk kamera di dalemnya. Alhamdulillah, aman bos. Cuma bayar diri tiket masuk aja. Bisa ditiru bisa juga enggak sih hehe. Tergantung kalian mau bayar lebih mahal buat kamera atau mau eksperimen seperti aku. Disini kalian juga bisa foto-foto ala-ala prewed gitu. Tempatnya luas banget bisa buat koprol ngayang dan sebagainya. bisa juga kalo emang bawa keluarga yang banyak, bawa tikar bawa makan dari rumah dan piknik di sini. Ditemani angin laut lepas yang sepoi-sepoi dijamin pikinik kalian tidak pernah terlupakan. Ada penyewaan bebek-bebekan gitu, buat dedek-dedek gemas bisa dicoba juga. Didalam kolamnya juga ada beberapa bebek atau angsa gitu, seru bisa kasih makan juga.



    
     Tiap part berisi 5 tempat wisata ya dan itu tidak dalam satu kawasan, karena Bali cuma ada 8 kabupaten jadi aku biasanya sekalian keluar trus jalan-jalan aja liat penunjuk jalan dan mampir gitu. Adasih beberapa yang emang diniatin dan itu sejalur, tapi aku uploadnya sesuai sama koleksi foto aku hehe. Jadi silahkan nanti di list sendiri yaa atau bisa tanya-tanya ke aku lewat kolom komentar. inshaAllah kalau aku tau bisa bantu. Oiya untuk sejarah singkatnya sebenernya bisa kalian baca di google sih hehe, tapi sedikit kufasilitasi biar gak bolak-balik buka web. Terimakasih dan sampai jumpa di part 2!


Comments

Popular posts from this blog

JUNG SKIN CARE

EFEK KOMUNIKASI MASSA

BOYFRIEND