Why I Choose Psychology?
Why You Choose
Psychology?
Pertanyaan yang sering muncul
dari awal masuk kuliah dulu dan sampai sekarang sudah menjadi mahasiswa
semester akhir. Awalnya ketika ditanya itu jawabnya pasti ketawa dulu dan
selalu bilang “karena gagal masuk kedokteran” atau “ emang pengen masuk kesini kalau nggak
keterima di kedokteran”. Selalu berputar disekitar jawaban itu. Pernah juga
beberapa teman mama (bukan hanya beberapa sih) mereka semua bertanya kenapa
nggak mau sekolah seperti mama? (fyi, mamaku Bidan). Karena kebanyakan temen
mama tuh anak-anaknya sekolah Kebidanan sama Keperawatan kalau nggak ya
Kedokteran. Tapi ini nggak berlaku buat aku sama saudara kembarku (fyi juga,
aku kembar. Kapan-kapan akan ku ceritakan). Kenapa? Karena ritme kerja mama
yang kadang bikin aku ngelihatnya capek. Tiap hari kerja dengan shift berbeda.
Seminggu kayaknya ya cuma dapet 2 hari libur, jadi total 8 kali libur sebulan.
Belum lagi kalau ada pasien dating kerumah tengah malem atau jam 2 pagi (ini
sering terjadi) mama yang baru pulang jaga di RS harus bangun lagi buat pasien.
Sebenernya ini emang rutinitas dan apa ya namanya konsekuensi dari pekerjaan
seorang Bidan. Tapi gatau kenapa Bidan itu bukan profesi yang aku banget (just my opinion). Selain itu karena aku
berpikir kalau nih ya semua anak mama jadi bidan nanti kalau di rumah yang
diomongin itu melulu gajauh dari dunia per-bidanan.Sekarang karena aku masuk
Psikologi dan kembaran aku masuk Kesehatan Masyarakat, kalau kita lagi kumpul
tuh bahasannya semakin banyak. Kadang karena KesMas itu sejalur sama Bidan
sering saudaraku bertanya beberapa hal yang menyangkut ilmu mama (fyi lagi,
karena KesMas ini belajar semuanya mulai dari Kedokteran, Keperawatan, Gizi,
Geografi sampai Psikologi). Jadi kita juga sering sharing masalah gitu. Tapi
kadang bisa kesel-keselan kalau bahasannya bertentangan gitu hehe. Tapi gapapa
sih, aku lebih suka yang kayak gini karena di rumah selalu ada bahasan yang
beda tiap kami pulang (Uh anak kost ini disemester akhir sering kangen sama
rumah).
Nah selain 2 alasan diatas, ada salah satu alasan mendasar kenapa aku memilih psikologi ketimbang
jurusan lain. Aku pernah punya trauma dengan matematika. Kok bisa? Kenapa? Trus
kamu jadi gimana? Biasanya pertanyaan itu yang diajukan oleh teman-teman saat
aku menceritakan alasanku. Jadi
sebenarnya aku dulu gatau kalau ini namanya trauma, cuma taunya aku takut aja.
Gak Cuma sama matematika itu melebar jadi takut menghadapi ujian sekolah sampai
hal paling dasar pekerjaan rumah. Aku mulai tidak percaya diri dengan
mengerjakan pekerjaan rumahku semenjak kejadian itu. Setelah itu aku jadi anak
yang harus bergantung pada oranglain, aku harus menyocokkan dulu pekerjaanku
sampai aku benar-benar merasa ini adalah jawaban benar. Takut matematika juga
bikin aku gak pernah mau berjuang ngerjain matematika sampai bisa. Karena
biasanya aku berakhir dengan muntah atau sakit kepala sampai bahkan demam. Itu
berlangsung sampai aku SMA. Alhamdulilah semenjak kuliah hal-hal itu sedikit demi
sedikit berkurang.tulah sedikit ceritaku kenapa
aku milih kuliah di Jurusan Psikologi. Ya semoga buat kalian-kalian yang mau
kuliah atau merasa jurusannya kurang sreg coba gali dulu apa alasan kalian buat
ambil jurusan itu. Kalau memang kurang nyaman, coba ubah pola kerjanya biar yang
nggak nyaman tadi bisa jadi nyaman.
See you! xoxo

Comments
Post a Comment